JAKARTA – Politikus PDI Perjuangan (PDIP), Guntur Romli, membantah tudingan yang mengaitkan partainya dengan aktivis mahasiswa sekaligus mantan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto.
Bantahan tersebut disampaikan menyusul pernyataan Aliansi BEM Fakultas Bersatu yang sebelumnya menyebut mobil Toyota Fortuner yang digunakan Tiyo saat aksi demonstrasi di Yogyakarta diduga memiliki keterkaitan dengan keluarga mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Andika Perkasa.
Tudingan itu disampaikan Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Ibnu Chaldun (UIC), Rahmat Djimbula, dalam konferensi pers yang digelar di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur, Selasa (16/6/2026).
Menanggapi hal tersebut, Guntur menegaskan kendaraan yang digunakan Tiyo bukan milik pihak yang disebutkan dalam konferensi pers tersebut. Ia menyebut mobil itu hanyalah kendaraan pinjaman dari seseorang yang memiliki hubungan keluarga dengan pihak lain yang pernah terlibat dalam tim pemenangan pemilihan presiden.
“Mobil yang dipakai Tiyo adalah pinjaman dari seseorang, dan seseorang itu adik dari seseorang yang besannya dari orang yang dulunya timses di Pilpres. Padahal Pilpres sudah selesai. Adik kakak juga belum tentu pilihan politiknya sama. Besanan juga belum tentu sama politiknya,” kata Guntur.
Menurutnya, narasi yang dibangun untuk menghubungkan Tiyo dengan PDIP maupun tokoh tertentu terlalu dipaksakan dan tidak memiliki dasar yang kuat.
“Itu cuma dipaksakan dengan cocoklogi saja,” tegasnya.
Guntur juga mempertanyakan alasan sejumlah pihak menghubungkan PDIP dengan nama-nama yang disebut dalam konferensi pers tersebut.
Menurutnya, baik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso maupun Siti Nuraeni bukan merupakan kader PDIP sehingga tudingan yang diarahkan kepada partainya dianggap tidak relevan.
“Pak Setyo, Bu Siti juga bukan orang PDI Perjuangan. Kenapa dikaitkan ya?” ujarnya.
Ia juga membantah anggapan bahwa kehadiran tokoh tertentu dalam sebuah kegiatan otomatis menunjukkan adanya keterlibatan resmi partai politik.
Saat ditanya mengenai informasi yang menyebut politikus PDIP Andi Widjajanto hadir dalam aksi demonstrasi mahasiswa di Yogyakarta, Guntur mengaku tidak mengetahui secara pasti kebenaran kabar tersebut.
Namun ia menegaskan, apabila kehadiran Andi memang terjadi, maka hal itu dilakukan atas kapasitas pribadi dan bukan sebagai representasi partai.
Menurut Guntur, setiap kader yang menjalankan tugas resmi atas nama PDIP wajib memiliki surat penugasan dari partai.
“Kalau benar Mas AW datang, itu atas nama pribadi. Kalau atas nama partai, pasti ada surat penugasan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Guntur menepis anggapan bahwa aksi-aksi mahasiswa yang belakangan terjadi berkaitan dengan kepentingan politik PDIP.
Ia menilai tuduhan tersebut justru merendahkan independensi gerakan mahasiswa yang selama ini dikenal kritis terhadap berbagai kebijakan publik.
“PDI Perjuangan tidak terkait dengan aksi-aksi mahasiswa. Jangan merendahkan gerakan independen mahasiswa dengan memberikan tuduhan yang ditunggangi oleh partai dengan bukti yang sumir dan tidak masuk akal. Itu hanya cocoklogi,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Guntur juga menyinggung kritik terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurutnya datang dari berbagai kalangan masyarakat, bukan semata dari kelompok tertentu.
Ia bahkan mengaitkan kritik tersebut dengan proses hukum yang tengah berlangsung terkait dugaan korupsi yang menyeret sejumlah mantan pejabat Badan Gizi Nasional (BGN).
“Kritik terhadap MBG itu datang dari hampir semua lapisan masyarakat. Yang sekarang terbukti dengan ditangkapnya tiga eks pimpinan BGN atas tuduhan korupsi. Apa BEM Bersatu itu mau bela koruptor?” pungkasnya.
Sebelumnya, Aliansi BEM Fakultas Bersatu menyampaikan dugaan adanya kedekatan antara Tiyo Ardianto dengan jaringan politik tertentu.
Rahmat Djimbula menyebut dugaan tersebut didasarkan pada informasi mengenai kepemilikan kendaraan yang digunakan Tiyo saat mengikuti aksi demonstrasi di kawasan Gejayan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, beberapa waktu lalu.
Selain itu, pihaknya juga menyoroti kehadiran sejumlah tokoh dalam berbagai forum yang pernah diikuti Tiyo sebagai bagian dari rangkaian argumentasi mereka.
Meski demikian, BEM Fakultas Bersatu menegaskan fokus utama mereka adalah menjaga independensi gerakan mahasiswa dari berbagai bentuk intervensi politik praktis.
Dalam pernyataannya, aliansi tersebut juga menyampaikan dukungan terhadap keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis dengan catatan perbaikan tata kelola, serta mendorong pengusutan kasus korupsi secara transparan tanpa pandang bulu.












