Berita

Debu Hitam Beterbangan, Sampai Kapan Abu Tolato Jadi Momok Warga Asembagus?

×

Debu Hitam Beterbangan, Sampai Kapan Abu Tolato Jadi Momok Warga Asembagus?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

BLAK-BLAKAN.COM – Keluhan mengenai abu tolato kembali mencuat di Kecamatan Asembagus. Debu hitam yang diduga berasal dari aktivitas penggilingan tebu di PG Asembagus kembali beterbangan dan dikeluhkan warga karena mengganggu kenyamanan, kesehatan, hingga keselamatan saat beraktivitas.

Bagi masyarakat sekitar, fenomena ini bukanlah hal baru. Setiap musim giling berlangsung, debu hitam kerap terlihat menempel di halaman rumah, kendaraan, hingga lapak pedagang. Tidak sedikit warga yang mengaku harus menutup pintu dan jendela lebih rapat untuk mengurangi masuknya abu ke dalam rumah.

Keluhan juga datang dari para pengguna jalan yang melintas di kawasan Asembagus. Abu yang beterbangan disebut dapat menyebabkan mata perih dan mengganggu konsentrasi berkendara, terutama saat kondisi angin cukup kencang.

Sejumlah warga menilai persoalan ini telah berlangsung bertahun-tahun tanpa penyelesaian yang benar-benar dirasakan masyarakat. Meski berbagai upaya perbaikan dan pengendalian dampak lingkungan pernah disampaikan pihak terkait, keluhan serupa tetap muncul setiap musim giling tiba.

Selain berdampak pada lingkungan permukiman, sebagian warga juga mengkhawatirkan potensi dampak debu terhadap lahan pertanian dan aktivitas ekonomi masyarakat. Kondisi tersebut membuat persoalan abu tolato kembali menjadi perhatian publik.

Situasi ini memunculkan pertanyaan yang terus mengemuka di tengah masyarakat: sampai kapan abu tolato akan menjadi momok tahunan bagi warga Asembagus?

Masyarakat berharap pemerintah, instansi terkait, serta manajemen PG Asembagus dapat menghadirkan langkah penanganan yang lebih efektif dan berkelanjutan. Warga menginginkan solusi nyata agar hak atas lingkungan yang bersih, sehat, dan aman dapat benar-benar dirasakan.

“Jika setiap musim giling warga masih harus menutup pintu rapat-rapat, memakai kacamata saat ke pasar, dan khawatir saat berkendara, maka persoalan abu tolato belum bisa dikatakan selesai,” demikian suara yang kembali mengemuka dari masyarakat Asembagus. jum’at (19/06/2026)